9 Pahlawan Nasional Dari Kalimantan Lengkap Biografi Singkatnya

9 Pahlawan Nasional Dari Kalimantan Lengkap Biografi Singkatnya

Pahlawan Nasional Dari Kalimantan Lengkap Biografi Singkatnya  Hari Pahlawan yang diperingati pada tiap tanggal 10 November, seharusnya mengingatkan kembali pada generasi sekarang atas perjuangan dari para pendahulunya. Termasuk, pahlawan yang berasal dari Kalimantan.

Gelar sebagai Pahlawan Nasional merupakan gelar yang paling tinggi yang pernah dianugerahkan kepada para pejuang di Tanah Air. Gelar yang berupa anumerta atau diberikan pasca kematian ini diberikan oleh Pemerintah RI berdasarkan pada seluruh tindakan yang dianggap heroik yang definisinya yakni perbuatan nyata yang bisa dikenang serta dijadikan teladan sepanjang masa oleh masyarakat lainnya.

Sayangnya, belum semua pejuang bisa dianugerahi dengan gelar ini, karena dalam pemberiannya membutuhkan waktu riset yang panjang. Kalimantan merupakan salah satu pulau di Indonesia yang juga turut terlibat dalam berbagai kegiatan sejarah panjang perjuangan kemerdekaan juga mempunyai beberapa nama pejuang yang telah diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Berikut biografi lengkap berserta sejarah dari pejuang pahlawan dari Kalimantan yang turut berjuang melawan penjajah.

Baca Juga: Sejarah Berdirinya Kerajaan Kutai Pertama Kali

1. Pangeran Antasari

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan pada 1797 atau 1809 dan wafat di Bayan Begok pada tanggal 11 Oktober 1862.

Pangeran Antasari merupakan seorang Sultan serta dan pemimpin dalam Perang Banjar untuk melawan pasukan kolonial Belanda.

Pangeran Antasari memiliki nama kecil yakni Gusti Inu Kertapati, dari ibu Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan ayahnya Pangeran Masohut bin Pangeran Amir. Ayahnya merupakan cucu dari Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang tak bisa naik tahta pada 1785 karena diusir oleh Pangeran Nata, Walinya yang lalu mengangkat dirinya menjadi Sultan Tahmidullah II dengan bantuan dari pihak Belanda.

Pangeran Antasari tak sekadar dianggap sebagai pemimpin suku Banjar tetapi juga dianggap sebagai pemimpin oleh berbagai suku yakni Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Ngaju, Maanyan, Siang, Bakumpai dan suku-suku lain yang berada di kawasan pedalaman serta sepanjang sungai Barito.

Beliau melanjutkan perlawanan terhadap Belanda pasca Sultan Hidayatullah ditipu dengan menyandera ibundanya yang lalu diasingkan ke Cianjur.

Perang Banjar terjadi pada tanggal 25 April 1859 saat Pangeran Antasari dan 300 orang prajuritnya menyerang tambang batu bara yang dikuasai oleh Belanda di Pengaron dan berlanjut di semua wilayah kerajaan Banjar seperti Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang Sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Beliau meninggal karena terserang penyakit paru-paru dan cacar pada usia 75 tahun dan perlawanannya dilanjutkan oleh putranya yakni Muhammad Sema. Pangeran Antasari dianugerahkan sebagai pahlawan nasional pada 27 Maret 1968.

2. Brigjen Hasan Basri

Brigjen Hasan Basri lahir di Kandangan, Hulu Sungai Selatan pada tanggal 17 Juni 1923 dan wafat di Jakarta pada tanggal 15 Juli 1984. Beliau merupakan salah seorang tokoh militer yang turut berjasa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia terutama di Kalimantan Selatan.

Beliau merupakan pendiri Batalyon ALRI Divisi IV di Kalimantan Selatan, serta disebut sebagai Bapak Gerilya Kalimantan oleh Ketetapan DPRGR Tingkat II Hulu Sungai Utara pada tanggal 20 Mei 1962. Pendidikan awal yang dienyamnya adalah HIS, Tsanawiyah al-Wathaniah di Kandangan, Kweekschool Islam Pondok Modern Ponorogo, Jawa Timur.

Pasca kemerdekaan, Brigjen Hasan Basri aktif dalam organisasi pemuda Kalimantan yang pusatnya berada di Surabaya. Karir sebagai seorang tentara dan pejuangnya dimulai dari situ, ketika beliau menyusup pulang ke Kalimanran Selatan dan menjadi pemimpin Laskar Syaifullah.

Saat banyak anggota dari Laskar yang tertangkao oleh Belanda, Hasan Basri membentuk Banteng Indonesia dan mendirikan Batalyon ALRI.

Meskipun hasil perjanjian Linggarjati dan Renville menjadikan Kalimantan berada di bawah kekuasaan Belanda, Hasan Basri tak gentar dan tetap melanjutkan perjuangannya.

Puncaknya, beliau berhasil untuk memproklamasikan kedudukan Kalimantan sebagai bagian dari Republik Indonesia pada 17 Mei 1949. ALRI kemudian dilebur ke dalam TNI AD Divisi Lambung Mangkurat dan beliau diangkat sebagai Letnan Kolonel.

Pada 3 November 2001, Brigjen Hasan Basri diberikan gelar sebagai pahlawan nasional dari Banjarmasin oleh pemerintah.

3. Idham Chalid

Salah satu politisi Indonesia yang sangat memberikan pengaruh pada zamannya, Idham Chalid lahir di Satui, Kalimantan Selatan pada tanggal 27 Agustus 1921 dan meninggal pada tanggal 11 Juli 2010 di Jakarta.

Beliau pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia di Kabinet Ali Sastroamidjojo dan di Kabinet Djuanda, Ketua MPR dan DPR pada 1972-1977, Idam Chalid juga aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan serta pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Nadhlatul Ulama sejak 1956-1984.

Adam Chalid telah aktif di PBNU sejak usia remaja dan pernah menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan saat NU masih menjadi bagian dari Masyumi. Bahkan, pernah menjadi anggota DPR RIS (1949-1950), Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU (1952-1956) sebelum menjadi Ketua Umum NU pada 1956 dan merupakan orang terlama yang pernah menjabat sebagai ketua NU.

Gelar pahlawan nasional dari Banjarmasin dianugerahkan oleh pemerintah pada 7 November 2011 sebagai putra Banjar ketiga yang diangkat sebagai pahlawan nasional.

Pada masa seusai Orde Lama, Adam Chalid juga menjabat sebagai Menteri Utama Bidang Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet Ampera I, Menteri Negara Kesejahteraan pada Kabinet Ampera II serta Kabinet Pembangunan I.

4. Ir. Pangeran H. Mohammad Noor

Ir. Pangeran H. Mohammad Noor lahir pada tanggal 24 Juni 1901 di Martapura. Beliau merupakan keturunan dari keluarga bangsawan Banjar. Ir. Pangeran H. Mohammad Noor adalah cicit dari Ratu Anom Mangkubumi Kentjana bin Sultan Adam al-Watsik Billah.

Pada masa itu, Kesultanan Banjar telah dihapuskan secara sepihak oleh Belanda ketika menjelang akhir Perang Banjar. Sehingga keluarga Kesultanan yang tak lagi mempunyai hak istimewa menjadi terpencar di mana-mana dan menjadi jatuh miskin.

Ir. Pangeran H. Mohammad Noor bisa bersekolah di HIS, MULO, HBS lalu Techniche HoogeSchool (ITB) hingga memperoleh gelar Insinyur pada 1927, setahun setelah Ir. Soekarno.

Beliau tak bekerja untuk Belanda, melainkan memilih untuk berjuang dengan rakyat dan menggantikan ayahnya dalam Volksraad sebagai wakil Kalimantan pada 1935-1939.

Lalu, Ir. Pangeran H. Mohammad Noor aktif sebagai anggota PPKI dan turut melawan tentara sekutu pada pertempuran Surabaya Oktober-November 1945.

Pada masa revolusi tahun 1945-1949, Ir. Pangeran H. Mohammad Noor mendirikan pasukan MN 1001 untuk beroperasi di Kalimantan Selatan dengan dipimping Hassan Basri dan juga di Kalimantan Tengah dengan dipimpin Tjilik Riwut.

Kemudian, beliau diangkat menjadi Gubernur Kalimantan pertama yang berkedudukan di Yogyakarta ketika Agresi Militer Belanda I dan II, kemudian Ir. Pangeran H. Mohammad Noor membantu Idham Chalid dan rekan-rekannya untuk bertemu dengan Mohammad Hatta yang meminta agar Kalimantan terus berjuang secara politik dan militer meskipun belum bisa dibantu oleh Pusat.

Selanjutnya, Ir. Pangeran H. Mohammad Noor diangkat menjadi Menteri PU dan berhasil menyelesaikan proyek Sungai Barito, pembukaan pesawahan pasang surut atau P4S, membangun PLTA Riam Kanan dan sebagian kanal di Banjarmasin-Sampit, serta mengeruk ambang Barito yang bisa meningkatkan kemakmuran di lembah sungai Barito. Beliau dianugerahi sebagai pahlawan nasional dari Banjarmasin pada tahun 2018.

5. Abdul Kadir

Memiliki nama lain sebagai Raden Temenggung Setia Pahlawan, Abdul Kadir lahir pada 1771 di Kab. Sintang Propinsi Kalimantan Barat. Beliau wafat pada 1875 di Kab. Melawi, Kalimantan Barat. Beliau merupakan seorang bangsawan dari Melawi yang menawarkan pengembangan ekonomi rakyatnya sekaligus melawan pasukan Belanda.

Abdul Kadir adalah putra dari seorang bangsawan kerajaan Sintang yang memimpin wilayah Melawi pada tahun 1845 menggantikan ayahnya. Abdul Kadir berada dalam kondisi dilematis karena harus patuh kepada raja yang tuduk kepada Belanda, tetapi jiwanya tidak bisa mengingkari penolakan terhadap penjajahan Belanda.

Beliau kemudian membangun pasukan secara diam–diam untuk bersiap melawan Belanda. Belanda yang mengetahui rencana tersebut dan memberinya gelar Setia Pahlawan beserta sejumlah uang pada tahun 1866,tetapi Abdul Kadir tetap melanjutkan perlawanannya dari tahun 1868-1875. Belanda selalu kalah karena Abdul Kadir selalu mendapatkan informasi, akhirnya beliau ditangkap oleh Belanda dan ditahan di Nanga Pinoh hingga wafat dalam tahanan dan dimakamkan di Natal Mungguk Liang, Melawi. Abdul Kadir memperoleh gelar sebagai pahlawan nasional pada tahun 1999.

6. Tjilik Riwut

Marsekal Pertama TNI Anumerta Tjilik Riwut lahir pada tanggal 2 Februari 1918 di Kasongan, Kab. Katingan, Propinsi Kalimantan Tengah dan wafat pada tahun 1987 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Beliau merupakan seorang putra dayak yang turut berperan dalam pemerintahan sebagai Gubernur Kalimantan Tengah pada tahun 1958.

Tjilik Riwut pernah menulis beberapa buku dan berprofesi sebagai jurnalis. Pada tanggal 17 Desember 1946, Tjilik Riwut bersama dengan beberapa tokoh perwakilan Dayak Kalimantan melakukan sumpah setia kepada pemerintah RI dengan upacara adat suku Dayak. Kemudian beliau mendapat perintah untuk memimpin Operasi Penerjunan Pasukan Payung yang pertama kali oleh S. Suryadarma, Kepala TNI AU pada tanggal 17 Oktober 1947 di desa Sambi, Kotawaringin, Kalimantan Tengah.

Untuk memperingati hari tersebut, tanggal 17 Oktober resmi ditetapkan sebagai Hari Pasukan Khas TNI AU. Tjilik Riwut diangkat sebagai pahlawan nasional pada tshun 1998. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama untuk bandara di Palangkaraya.

7. Drs. Saadilah Mursyid

Drs, Saadillah Mursjid lahir pada tanggal 7 September 1937 dan wafat pada tanggal 28 Juli 2005. Beliau adalah Menteri Muda/Sekretaris Kabinet Indonesia pada Kabinet Pembangunan V, Menteri Sekretaris Kabinet pada Kabinet Pembangunan VI, dan Menteri Sekretaris Negara pada Kabinet Pembangunan VII.

Sebelum mendapatkan posisi menteri, Drs. Saadilah Mursyid sebagai lulusan Universitas Gadjah Mada, The Netherlands Economic Institute (Rotterdam), dan Universitas Harvard ini pernah bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada tahun 1992, beliau memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana. Sejak tahun 2003, Drs. Saadilah Mursyid menjadi general manager Taman Mini Indonesia Indah.

Beliau menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara saat pengunduran diri mantan Presiden Soeharto. Pada masa itu Soeharto menunjuk Drs. Saadilah Mursyid untuk mempersiapkan naskah final Keputusan Presiden mengenai Komite Reformasi dan Keputusan Presiden mengenai Pembentukan Kabinet Reformasi. Drs. Saadilah Mursyid juga dikenal sebagai politisi pengikut Soeharto yang loyal serta tetap mendampingi Soeharto ketika banyak orang berpaling dari Soeharto setelah kejatuhannya. Beliau adalah orang yang menulis konsep pengunduran diri Presiden Soeharto serta melaporkan detik-detik suasana genting pada Mei 1998.

Dari pernikahannya dengan Halimah Ratna Mursjid, Drs. Saadilah Mursyid dikaruniai tiga anak dan enam cucu. Beliau dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

8. Sultan Hidayatullah II

Sultan Hidayatullah II, terlahir dengan nama Gusti Andarun, dengan gelar mangkubumi Pangeran Hidayatullah kemudian bergelar Sultan Hidayatullah Halil Illah. Beliau lahir di Martapura, 1822 dan wafat di Cianjur, Jawa Barat, 24 November 1904 pada usia 82 tahun. Sultan Hidayatullah adalah pemimpin Kesultanan Banjar yang berkuasa antara tahun 1859 hingga 1862. Sultan Hidayatullah dikenal sebagai salah seorang tokoh pemimpin Perang Banjar yang melawan pemerintahan Hindia Belanda.

Terlahir sebagai anak dari Pangeran Ratu Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al-Watsiq Billah, Gusti Andarun menjadi kandidat utama pewaris takhta Kesultanan Banjar untuk menggantikan kakeknya Sultan Adam, tetapi posisi tersebut malah diduduki oleh kakak tirinya Tamjidullah II yang memperoleh dukungan dari pemerintah Hindia Belanda.

Peristiwa ini menciptakan terjadinya perpecahan di lingkungan keluarga bangsawan Banjar dan masyarakat, dimana tercipta kubu pendukung Tamjidullah yang dekat dengan Belanda serta kubu pendukung Gusti Andarun yang tak setuju dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda tersebut. Untuk meredam ketegangan, pada tahun 1856 pemerintah Hindia Belanda kemudian mengangkat Gusti Andarun sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan) Banjar dengan diberikan gelar Pangeran Hidayatullah.

Pengangkatan tersebut ternyata tak dapay meredakan ketegangan antara keluarga bangsawan, masyarakat, serta pemerintah Hindia Belanda. Ketegangan ini pun menjadi pemicu terjadinya Perang Banjar, dimana pada tanggal 18 April 1859, pasukan Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara Oranje-Nassau di daerah Pengaron. Pemerintah kolonial lalu memakzulkan Tamjidullah serta mencoba menobatkan Hidayatullah sebagai sultan, tetapi Hidayatullah menolak tawaran tersebut. Beliau dinobatkan oleh para panglima Banjar untuk menjadi sultan pada September 1859, dengan gelar Sultan Hidayatullah Halil Illah.

Sultan Hidayatullah memimpin Perang Banjar hingga tahun 1862, saat beliau beserta keluarganya berhasil ditangkap oleh pihak Hindia Belanda. Sultan Hidayatullah, keluarga, dan sebagian pengikutnya kemudian diasingkan ke Cianjur, dimana beliau menghabiskan sisa hidupnya disana hingga wafat pada tahun 1904. Atas sikapnya yang anti-imperialis serta kepemimpinannya dalam melawan pemerintahan Hindia Belanda dalam Perang Banjar, pada tahun 1999 pemerintah Indonesia menganugerahkannya Bintang Mahaputera Utama.

9. Letjend Purn. Zaini Azhar Maulani

Letjend Purn. Zaini Azhar Maulani lahir di Marabahan, Kalimantan Selatan pada tanggal 6 Januari 1939, beliau merupakan seorang penulis di bidang militerm intelijen serta gerakan Islam. Beliau pernah menjadi seorang aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) sekaligus menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara hingga tahun 1999. Beliau wafat pada 5 April 2005.

Karier Letjend Purn. Zaini Azhar Maulani lebih banyak dihabiskan di dunia militer, diawali sebagai Komandan Peleton, Kompi I, Batalyon 145/Sriwijaya. Beliau lalu menjabat sebagai Panglima Kodam VI Tanjungpura tahun 1988-1991. Dari Kodam Tanjungpura, beliau kemudian menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Transmigrasi pada tahun 1991-1995. Letjend Purn. Zaini Azhar Maulani lalu menjadi staf ahli Menristek/BPPT pada tahun 1995-1998. Selain itu, Z.A. Maulani juga merupakan penulis soal militer, intelijen serta gerakan Islam.

Beliau juga pernah menjadi aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Setelah jabatannya sebagai Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara pada tahun 1999, Letjend Purn. Zaini Azhar Maulani lebih banyak menganalisis politik dalam negeri. Dalam kehidupan sosial, beliau juga termasuk sebagai salah satu pencetus Perkumpulan Alumni Pelajar Islam Indonesia dimana beliau menjadi Ketua Umum Pertama Pengurus Pusat Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (PII). Letjend Purn. Zaini Azhar Maulani juga rajin memberikan ceramah dan menjadi narasumber dalam kesehariannya.